Perpusnas Apresiasi Komitmen BPI Membangun dan Mengembangkan Perpustakaan Desa di Kabupaten Batang
Batang, 8 Mei 2017 – PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) mendapat apresiasi berupa piagam penghargaan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) di Aula Kabupaten Batang hari ini, Senin (8/5). Perpusnas menilai BPI tetap konsisten dalam menjalankan komitmennya meningkatkan minat baca dan budaya literasi melalui pembangunan dan pengembangan perpustakaan desa dan Taman Pendidikan Quran (TPQ) di area terdampak pembangunan proyek PLTU Jawa Tengah 2 x 1.000 MW.
Presiden Direktur BPI Takashi Irie menyampaikan ucapan terima kasih atas apresiasi yang diberikan kepada BPI atas sejumlah kegiatan yang telah diinisiasi dan dijalankan secara konsisten selama 2 tahun. “Kami merasa bangga atas penilaian dan penghargaan yang diberikan. Komitmen BPI adalah terus meningkatkan budaya minta baca bagi seluruh lapisan masyarakat dan penghargaan ini akan mendorong kami untuk terus berinovasi dalam menjalankan dan meneruskan program perpustakaan untuk masyarakat,” kata Irie.
Penghargaan ini diberikan dalam rangka kegiatan safari Perpustakaan Nasional RI “Gerakan Nasional Gemar Membaca”. Pada kesempatan tersebut, Manager Corporate Social Responsibility (CSR) BPI, Bhayu Pamungkas menerima penghargaan langsung dari Kepala Pusat Preservasi Badan Pustaka Perpustakaan Nasional, Sri Sumekar didampingi Anggota Komisi X DPR, Marlinda Irwanti dan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Batang, Muchlasin.
Berdasarkan data terbaru Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, terdapat sekitar 25.728 perpustakaan di seluruh Indonesia. Perpustakaan sekolah merupakan yang terbanyak dengan jumlah 22.375, disusul perpustakaan umum 1.506, perpustakaan khusus 1.002, dan perpustakaan perguruan tinggi 845. Sementara perpustakaan daerah, paling banyak terdapat di Jawa Barat dengan 4.780 perpustakaan, disusul Jawa Tengah dengan 4.268 perpustakaan dan paling sedikit di Papua Barat dengan 3 perpustakaan.
Namun, banyaknya perpustakaan di daerah belum membuat masyarakat Indonesia rajin membaca atau mempunyai budaya literasi yang tinggi. Data World Most Literate Nations (WMLN) — pemeringkatan literasi sebuah negara — mencatat Indonesia menempati peringkat ke 60 dari 61 negara yang dilakukan pemeringkatan.
Peringkat literasi Indonesia berada di bawah negara ASEAN lain seperti Thailand (59), Malaysia (53) dan Singapura (36). Adapun negara dengan tingkat budaya literasi tertinggi adalah Negara-negara Nordic seperti Finlandia, Islandia, Denmark, Swedia, dan Norwegia.
Untuk itu, BPI berupaya keras memasukkan sektor pendidikan, khususnya budaya literasi ke dalam program CSR perusahaan sebagai upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia di daerah Batang. Sejak tahun 2015 hingga sekarang BPI bersama Dinas Perpustakaan & Kearsipan Batang dan Coca Cola Foundation Indonesia telah mereplikasi Program PerpuSeru di 14 Perpustakaan desa terkait PLTU.
Desa tersebut adalah Karanggeneng, Ujungnegoro, Ponowareng, Wonokerso, Kenconorejo, Tulis, Simbangjati, Beji, Wringingintung, Bakalan, Juragan, Kedungsegog, Sembojo, dan Sengon. Selain itu, BPI telah mengembangkan 20 Perpustakaan mini di Taman Pendidikan Alquran dan Taman Bacaan yang tersebar di Area terdampak Pembangunan PLTU Jawa Tengah 2 X 1.000 MW.
Dalam program ini, BPI melalui program CSR bidang Pendidikan mendukung setiap kegiatan tahapan program pengembangan perpustakaan seperti Sosialisasi, Pelatihan Strategi Pengembangan Perpustakaan, Pelatihan Dasar Komputer Internet, Pengadaan Komputer, Bantuan Proyektor, Pendampingan serta Donasi 4.651 buku bacaan yang telah diberikan kepada masing-masing Perpusdes dan Perpustakaan mini Taman Pendidikan Al-Quran.
Bhayu menjelaskan program kemitraan ini diharapkan menjadi sebuah program terobosan yang memudahkan masyarakat mengakses ilmu pengetahuan. “Berdasarkan pantauan kami di lapangan, kemudian kami buat program yang bertujuan menambah pengetahuan masyarakat dalam menghadapi persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat mencari alternatif-alternatif solusi permasalahan melalui buku-buku atau teknologi informasi yang bisa ditemui di perpustakaan,” jelas Bhayu.
Program kemitraan ini bertujuan menjadikan perpustakaan sebagai pusat belajar dan kegiatan masyarakat yang inovatif berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Setelah membangun sebuah perpustakaan, BPI terus menjalankan komitmen pengembangan agar kelak dapat bertransformasi menjadi pusat pembelajaran komunitas dan membentuk agen-agen perubahan di masyarakat desa.
Dalam hal ini, pengurus serta pengelola memfasilitasi dan mengemas format perpustakaan dengan cara yang lebih menarik sehingga para pemuda, pelajar, serta ibu PKK bahkan anak-anak tingkat TK tertarik mengunjungi perpustakaan karena suasana yang seru dan menyenangkan, jauh dari kesan membosankan. “Tentu dengan adanya fasilitas ini, tidak hanya menyediakan sumber pengetahuan melalui buku dan teknologi informasi, kami juga berharap perpustakaan ini dapat memberikan peningkatan kualitas hidup masyarakat desa,” ujar Bhayu.


