Berita

Nelayan Roban Barat dan Roban Timur Kunjungi Central Java Coal Fired Power Plant

 
BATANG—Sejumlah nelayan tradisional dari Roban Barat, Desa Kedungsegok, Kecamatan Tulis dan nelayan dari Roban Timur, Desa Sengon, Kecamatan Subah mengunjungi pembangunan PLTU Jawa Tengah 2 x.1000 MW. Mereka mendapatkan informasi secara langsung, baik progres pembangunan, tenaga kerja, dan dampak terhadap masyarakat desa maupun nelayan.
 
Mereka merasa puas dan senang, karena mendapatkan informasi secara langsung dan akurat dari pemrakarsa pembangunan PLTU terbesar se-Asia Tenggara, PT Bhimasena Power Indonesia (PT BPI) sehingga berimbang informasi yang didapatkan selama ini dari pihak luar yang tidak bertanggungjawab.
 
“Kami senang bisa melihat PLTU langsung dan dijelaskan dari narasumbernya dan berbeda dengan apa yang kami pikirkan selama ini.”kata Bambang Wagino, nelayan asal Dukuh Roban Barat, Desa Kedungsegok, Kecamatan Tulis.
 
Bambang Wagino juga menambahkan, bahwa setelah melihat secara langsung proses pembangunan dan mendapatkan informasi yang akurat dari pemilik PLTU, bahwa PT BPI komitmen terhadap pengelolaan lingkungan.
 
Sementara itu, Ketua HNSI Batang, Teguh Tarmujo berharap setelah para nelayan dari Roban Barat maupun Roban Timur berkunjungan ke lokasi PLTU bisa mengerti kondisi dan keadaan sebenarnya. Karena, selama ini mereka hanya menerima informasi sepihak dari kelompok maupun orang yang tidak bertanggungjawab.
 
“Alhamdulillah mereka sudah mendapatkan informasi yang akurat langsung dari PT BPI, baik cara kerja PLTU ketika beroperasi, maupun saat proses pembangunannya.”ungkap Teguh Tarmujo usai mendapingi para nelayan melihat langsung secara dekat pembangunannya.
 
Lebih lanjut dijelaskan, bahwa program kunjungan ini sangat bermanfaat bagi kedua belah pihak, baik bagi PT BPI, masyarakat desa maupun nelayan di sekitar pembangunan PLTU. Karena, bisa mensinergikan dan menyeimbangkan informasi yang beredar di masyarakat. 
 
General Manager External Relation PT BPI, Ary Wibowo menjelaskan bahwa PLTU Batang 2 x 1.000 MW menggunakan teknologi tinggi ramah lingkungan, yakni Ultra Super Critical (USC) yang sistem pengolahan gas buangnya dapat meminimalkan gas emisi/dispersi, sehingga ramah lingkungan. Termasuk keterlibatan masyarakat dalam pembangunan merupakan kunci utama dalam menjaga kondisi sosial.
 

“Keterbukaan informasi dan kemudahan akses informasi selalu kami coba berikan kepada masyarakat lokal dan pemerintah melalui kegiatan sosialisi, seperti halnya sosialisi kepada para nelayan desa terdekat.”kata Ary Wibowo. (*)