Menghidupkan Kembali “Emas” Kopi Tombo, Menumbuhkan Ekonomi dan Menjaga Lingkungan
Bhimasena Power, PLTU Batang – Jauh sebelum kopi menjadi bagian dari
tren gaya hidup seperti sekarang, Desa Tombo, Kecamatan Bandar, Kabupaten
Batang, telah lebih dulu mengenal komoditas ini.
Sejak masa Belanda, Tombo dikenal memiliki kekayaan kopi yang bahkan pernah
dipasarkan hingga ke pasar internasional. Kopi menjadi salah satu kekuatan
pertanian masyarakat dan bagian dari identitas desa yang diwariskan dari
generasi ke generasi.
Namun, perjalanan kopi Tombo tidak selalu berada di masa kejayaannya. Persaingan
pasar yang semakin ketat dan berbagai tantangan dalam pengelolaan komoditas
membuat kopi perlahan tergeser oleh tanaman lain, termasuk karet dan teh.
Seiring waktu, kejayaan kopi Tombo pun tidak lagi sekuat masa sebelumnya.
Kini, semangat untuk kembali menguatkan potensi “emas” dari Tombo itu mulai
tumbuh. Masyarakat, termasuk generasi muda desa, mulai melihat kopi bukan hanya
sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai peluang ekonomi yang masih memiliki
masa depan. Di saat yang sama, pengembangan kopi juga dipandang dapat berjalan
beriringan dengan upaya menjaga fungsi lingkungan, khususnya di kawasan Daerah
Aliran Sungai (DAS).
Semangat tersebut salah satunya diwujudkan melalui Bimbingan Teknis
(Bimtek) Budidaya Kopi Arabika bagi para petani Desa Tombo di Pondok Sidawung,
Selasa (11/8/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program Daerah Aliran
Sungai (DAS) Lestari, yang mendorong pengembangan ekonomi masyarakat sekaligus
pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.
Para petani mendapatkan pengetahuan praktis mengenai budidaya kopi Arabika,
mulai dari teknik penanaman hingga pengelolaan hama dan penyakit tanaman.
Burohim dan Anang dari Petani Kopi Surjo hadir sebagai narasumber untuk berbagi
pengalaman dan pengetahuan yang dapat diterapkan langsung di lahan petani.
Antusiasme terlihat selama kegiatan berlangsung. Berbagai pertanyaan
disampaikan peserta, terutama mengenai hama dan penyakit tanaman yang menjadi
salah satu tantangan dalam menjaga pertumbuhan dan produktivitas kopi. Bagi
para petani, pengetahuan tersebut bukan sekadar materi pelatihan. Apa yang
dipelajari akan dibawa kembali ke kebun dan menjadi bekal dalam merawat tanaman
agar dapat tumbuh dengan baik.
Salah satu peserta, Tarmujo, petani kopi di Tombo mengatakan pelatihan
tersebut memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai tahapan budidaya kopi.
“Untuk pelatihan hari ini, mulai dari penanaman sampai dengan pengetahuan
dan penanganan hama dan penyakitnya sudah cukup jelas. Ke depan akan saya
terapkan dan saya pahami dalam pengelolaan tanaman kopi,” ungkapnya.
Kepala Desa Tombo, Mustajab, melihat antusiasme para petani sebagai modal
penting untuk kembali memperkuat pengembangan kopi di desanya.
“Alhamdulillah, petani sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Banyak
pertanyaan yang disampaikan, dan mudah-mudahan pengetahuan yang diperoleh dapat
mendukung keberhasilan pengembangan kopi Arabika di Desa Tombo. Kami berharap
dari tahap awal hingga pelaksanaan nantinya dapat berjalan baik dan memberikan
dampak terhadap peningkatan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Penguatan budidaya tersebut
kemudian dilanjutkan dengan dukungan bibit. Sebanyak 5.400 bibit kopi Arabika
disiapkan untuk mendukung penanaman di lahan petani.
Berdasarkan hasil survei yang
dilakukan Cabang Dinas Kehutanan Wilayah IV Dinas Lingkungan Hidup dan
Kehutanan Jawa Tengah (CDK IV) terhadap 27 bidang tanah, bibit tersebut
direncanakan disalurkan kepada 13 petani untuk ditanam menjelang musim hujan.
Yang menarik, pengembangan
tersebut tidak dilakukan dengan membuka kawasan hutan baru. Seluruh lokasi
penanaman berada di lahan milik petani dan tidak berada di kawasan hutan. Dengan demikian, pengembangan kopi
dilakukan tanpa pembukaan atau perambahan hutan.
Sebaliknya, tanaman kopi yang dikembangkan termasuk dalam kelompok MPTS
(Multi-Purpose Tree Species), yaitu tanaman yang tidak hanya memberikan manfaat
ekonomi melalui hasil produksinya, tetapi juga memiliki fungsi ekologis.
Keberadaan tanaman tersebut diharapkan dapat membantu menjaga kondisi tanah,
mengurangi risiko erosi, serta mendukung fungsi lingkungan di sekitarnya.
Dengan pendekatan tersebut, pengembangan kopi di Tombo diarahkan untuk
mempertemukan dua kepentingan yang sama-sama penting bagi masyarakat yaitu
meningkatkan nilai ekonomi lahan sekaligus menjaganya agar tetap berfungsi
secara ekologis.
Proses tersebut dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan Pemerintah
Desa Tombo, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), CDK Wilayah IV, dan PT
Bhimasena Power Indonesia (BPI).
Bagi BPI, keberhasilan program pemberdayaan masyarakat tidak cukup hanya
dengan menyediakan bibit. Pengetahuan dan kemampuan petani perlu diperkuat agar
masyarakat mampu mengelola potensi tersebut secara mandiri dan berkelanjutan.
General Manager Stakeholder
Relation PT Bhimasena Power Indonesia, Aryamir H. Sulasmoro, mengatakan
penguatan kapasitas masyarakat menjadi bagian penting dalam keberlanjutan
program.
“Dukungan terhadap masyarakat
tidak hanya berupa penyediaan bibit, tetapi juga bagaimana pengetahuan dan
kemampuan petani dapat terus berkembang. Melalui kegiatan ini, kami berharap
petani memiliki bekal yang cukup untuk mengembangkan kopi Arabika sekaligus
mengelola lahan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut Bimtek,
para petani juga akan mendapatkan pendampingan untuk memastikan proses
penanaman dan pemeliharaan bibit dilakukan sesuai dengan teknik dan pengetahuan
yang telah diberikan selama pelatihan.
Dengan demikian, proses pengembangan tidak berhenti ketika kegiatan
pelatihan selesai. Pengetahuan akan diteruskan ke kebun, bibit akan ditanam dan
dirawat, sementara proses pendampingan diharapkan dapat membantu petani
menghadapi tantangan selama tanaman tumbuh.
Perjalanan untuk mengembalikan kejayaan kopi Tombo tentu tidak berlangsung
dalam semalam. Dibutuhkan waktu bagi bibit untuk tumbuh, bagi petani untuk
merawatnya, dan bagi hasilnya untuk memberikan manfaat ekonomi.
Namun, langkah kecil tersebut membawa sebuah harapan besar: bahwa kopi yang
dahulu menjadi kekuatan Tombo dapat kembali mengambil peran dalam kehidupan
masyarakat. Bukan dengan mengulang masa lalu, tetapi dengan membangun masa
depan yang lebih berkelanjutan.
Karena bagi masyarakat Tombo, “emas” kopi bukan hanya tentang buah yang
dipanen. Ia adalah tentang nilai ekonomi yang tumbuh di tangan petani,
pengetahuan yang diwariskan kepada generasi berikutnya, dan lahan yang tetap
terjaga untuk kehidupan di masa depan.(**)


